Belajar pada si Kecil

ImageMasa anak-anak dibagi menjadi dua periode, periode awal dan periode akhir. Periode awal pada masa kanak-kanak dari usia 2 – 6 tahun, dan periode akhir terjadi pada akhir masa kanak-kanak dari usia 6 tahun sampai tiba saatnya anak matang secara seksual, kira-kira  13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Setelah anak matang secara seksual, maka ia disebut remaja. Pembahasan yang difokuskan dari tulisan ini, yaitu tentang masa awal kanak-kanak. Karena pada masa ini, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk mencetak generasi yang luar biasa. J

Kembali pada dunia anak. Dunia yang tidak lepas dari kelucuan, kepolosan, spontanitas dan kreativitas Dari keanekaragaman kekhasan anak-anak ini, jika kita perhatikan, ada banyak hal yang bisa orang dewasa pelajari. Kita bisa mempelajarinya melalui ciri khas pada awal masa kanak-kanak di bawah ini.

 

  1. a.   Usia Bermain

Sebutan usia bermain diberikan dari awal masa kanak-kanak sampai anak memasuki usia sekolah. Disebut juga dengan usia bermain karena pada masa ini, anak banyak menghabiskan waktu dengan bermain. Anak menunjukkan minat yang besar hingga mencapai puncaknya pada usia awal masa kanak-kanak, dan mengalami penurunan minat pada saat anak mencapai usia sekolah. Namun bukan berarti, minat bermain anak ketika memasuki sekolah sudah hilang. Anak-anak yang berada pada kelas 1 hingga kelas 3, masih melakukan permainan dan berbagai bentuk olah raga yang disesuaikan dan tidak ada satu pun yang menggunakan mainan. Namun kalau anak sedang sendirian, anak bermain lagi dengan mainannya sampai kelas 3 atau malahan sampai kelas 4.

Apa yang dapat kita pelajari dengan mengamati aktivitas bermain anak?

  1. Ketekunan

Bayi yang sedang dalam proses perkembangan fisiknya, belajar untuk merangkak, walaupun terjatuh, ia mencoba bangkit lagi sampai berhasil. Gagal, bangkit, gagal, bangkit lagi. Ketika terjatuh, sewajarnya bayi menangis, namun sifatnya hanya sebentar, setelah itu tangisannya akan berhenti, dan ia akan berusaha lagi untuk belajar merangkak. Lalu sedikit demi sedikit bayi mulai belajar merayap, berdiri, hingga berjalan.

Seperti ketika melihat seorang anak kecil yang sedang belajar menaiki sepeda. Wah, semangatnya luar biasa. Meskipun terjatuh kesakitan, setelah itu ia akan belajar menaiki sepedanya lagi sampai berhasil. Dan senyum kememanganpun terurai di wajahnya.

Orang dewasa dapat mencontoh sisi ketekunan, dan pantang menyerah si bayi dan anak tersebut. Kebanyakan anak tidak mengingat kegagalannya, ia hanya fokus untuk menekuni apa yang ia sukai sampai berhasil meraih tujuannya. Sepertu lagu anak-anak yang berjudul : “Aku Bisa… Aku Pasti Bisa… sekiranya ku tlah mencoba. Bila kugagal itu tak mengapa,.. yang pentingku sudah mencoba”     Lagu ini bisa menjadi motivasi anak-anak untuk terus semangat belajar.

 

  1. Keberanian

Pernah suatu ketika, saat menemani anak-anak bermain flying fox. Dengan ketinggian yang lumayan membuat saya agak merinding. Tetapi, anak-anak dengan tanpa ketakutan sedikitpun di wajah mereka, dengan senang hati mereka menaiki tangga, lalu bersiap-siap terjun untuk terbang, hingga sampai pada tujuan. Jujur saja, saya sendiripun sampai sekarang masih belum punya keberanian untuk menaiki flying fox. Saya harus belajar pada mereka J

Apa yang dapat kita pelajari? Anak-anak tidak melihat tantangan itu sebagai kesulitan atau hal yang menciutkan keberaniannya. Ia justru melihat sebagai kesenangan, ia bisa menikmatinya, melaluinya sampai ia berhasil pada tujuannya.

 

  1. Kerja Keras

Seorang anak ingin bermain balok susun. Katanya, ia akan membuat menara yang tinggiiiiiiiiiiiiiiii sekali…  Ketika menyusun balok-balok tersebut, ternyata baloknya roboh. Tidak berhenti sampai disitu, ia menyusun kembali baloknya, lalu terguling lagi, dan hancur seketika. Tetapi bukan anak-anak namanya, jika ia berhenti berusaha. Ia susun kembali balok-balok itu sambil ia hitung, dari balok ke-1…. 10, 11, 12, 13, 14, 15…… Horeeeeee… aku bisa buat menara yang tinggi, tidak roboh.

Dari contoh di atas, kita dapat mencontoh tentang sisi kerja keras anak dalam mencapai keinginannya tanpa mengeluh sedikitpun. Dalam hidup, ada kalanya upaya yang kita lakukan, seringkali mengalami hambatan, namun teruslah berupaya, karena kita tidak akan tahu sampai mana batas titik akhir keberhasilan kita, barangkali malah sudah dekat. J

  1. Upaya Mempertahankan Diri

 

Ketika mengamati beberapa anak yang sedang bermain bersama. Ada salah seorang anak yang merebut mainan temannya. Lalu, anak yang direbut mainannya, berusaha untuk mengambil mainannya kembali dan melindungi mainannya dari sergapan temannya.

 

Kegigihan dalam mempertahankan diri, dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari dalam mewujudkan kesuksesan.

  1. Usia kelompok

Disebut dengan usia kelompok karena pada masa ini, anak mempelajari  dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan untuk menyesuaikan diri memasuki sekolah dasar kelas 1.

 

  1. Cepat Bersosialisasi

Entah disadari atau tidak, ketika saya mengamati siswa–siswi baru pra sekolah yang belum saling mengenal di kelas. Dalam waktu sekejap saja, mereka akan saling menyapa, tanpa rasa malu, atau sungkan, hingga akhirnya mereka bermain bersama, walaupun baru mengenal. Kejadian ini juga didapati di arena bermain, sebuah mall. Anak-anak yang tidak saling kenal, tiba-tiba berlarian begitu saja, saling mendekat, bermain, tertawa atau bahkan menangis bersama karena bertengkar. Hal ini terjadi karena mereka sudah saling berinteraksi, menjalin hubungan pertemanan.

 

Kita sebagai orang dewasa dapat mempelajari kemampuan anak-anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain sebagai mahkluk individu, kita juga sebagai makhluk sosial, yang tidak lepas dari orang lain. Karena kita saling membutuhkan satu sama lain.

 

 

 

  1. Usia menjelajah atau usia Bertanya

Anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan. Salah satu cara yang umum dalam menjelajahi lingkungannya, yaitu dengan Bertanya. Maka masa ini disebut juga dengan usia Bertanya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkanpun seringkali membuat kita pusing dibuatnya.

Sayapun pernah mengalaminya waktu kecil, saya ingat betul, ketika saya masih TK, saya bertanya pada Bapak saya,” Pak, Allah itu bentuknya seperti apa? Pake apa? Pake topi atau mahkota gitu ya?” Yups, bayangan saya waktu kecil, seperti raja-raja yang memimpin sebuah istana. J dan Bapak sayapun dibuat bingung dengan menjawab pertanyaan saya.

 

  1. Rasa ingin tahu yang Besar

Menumbuhkan rasa ingin tahu ketika masa kanak-kanak sepertinya mudah sekali ya dilakukan, mereka seperti investigator atau penyelidik yang haus akan pengetahuan. Hmm, sebagai orang dewasa jangan kalah dengan anak-anak, kita seharusnya juga tidak kalah tekunnya dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, mencari tahu, memahami, mendalami, mengkaji atau mengkritisi sesuatu hal dari waktu ke waktu. Agar ketika ditanya anak-anak nanti kelak kita akan siap dengan pertanyaan – pertanyaan unik mereka. Bekal pengetahuan yang kita miliki tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, khususnya putera-puteri kita. J

 

  1. Usia Meniru

Anak suka meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Wow, ia begitu cepat dan pintar sekali menirukan apa saja yang ia lihat dan ia dengar. Terlebih ketika anak menirukan model iklan di TV atau adegan tokoh film kartun kesayangannya. Ia juga suka meniru perilaku orang tuanya atau orang-orang yang ada di dekatnya. Saya tergelitik melihat tetangga saya yang bermain di rumah saya memakai kacamata ibu saya dan menulis di kertas, sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang melorot karena kebesaran. Hihihi lucu sekali ,melihatnya. Ternyata ia sebelumnya memperhatikan perilaku ibu saya yang terkadang memakai kaca mata sambil menulis. Lalu ia juga pernah memakai sepatu hak tinggi saya dengan tertatih-tatih berjalan menggunakan sepatu itu.

 

  1. Melakukan Proses Belajar

 

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita di atas? Ada proses belajar yang dialami anak. Anak belajar melakukan pengamatan, lalu merekam informasi yang ia terima, kemudian menirunya. Namun anak diarahkan untuk meniru perkataan dan perilaku yang positif. 

 

 

  1. Usia Kreatif

Masa yang menunjukkan kreatifitas ketika bermain, dibandingkan masa-masa yang lain dalam kehidupannya.

 

Saya melihat anak-anak dengan hasil karyanya yang luar biasa, menggambar istana kerajaan, dengan penduduk yang tinggal di sana, lalu ia menceritakan dengan panjang lebar, apa saja yang ia gambar di kertasnya. Di sisi lain, anak-anak bermain pura-pura, ada yang berperan menjadi seorang ayah, ibu, dan  anak. Merekalah yang berinisiatif membagi perannya sendiri, dengan ide-ide cerita yang menarik, anak-anak berperan sesuai dengan peran yang ia jalani.

 

  1. Memiliki Kreativitas

 

Sebagai orang dewasa, kita terpacu dengan anak-anak yang memiliki daya imajinasi dan fantasi yang luar biasa. Tentu hal yang positif dari anak, yaitu keingianan mencoba dan mengetahuinya yang tinggi. Konon, daya imajinasi manusia, dari mulai masa kanak-kanak menuju masa dewasa lambat laun akan semakin berkurang.  Karena kemampuan otak atau sinapsis anak dua kali lebih besar dibandingkan orang dewasa, sehingga anak-anak tidak memiliki batasan pandangan terhadap dunia. Hmm…. Namun, jangan khawatir terhadap anggapan usia tersebut, karena kita sebagai orang dewasa juga dapat mengasah kreativitas dengan stimulus yang tepat dan gairah untuk belajar. Maka kita akan meningkatkan kemampuan otak dan pikiran kita. J

 

Itulah secuplik tentang kedahsyatan yang dimiliki anak-anak. Semoga kita dapat termotivasi dan bergairah untuk belajar melakukan hal-hal yang positif dari mereka.

`

 

Referensi :

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s