Kado Spesial Menyambut Bulan Romadhon

Atas izin Allah..

yang telah meniupkan ruh ke dalam rahim

perlahan tapi pasti dirimu berkembang pesat dan semakin besar

kurasakan tendangan kecil menyentuh perutku

yang mengajak berinteraksi denganku

Subhanallah… ada makhluk yang akan lahir menyambut dunia

hingga tak terasa sudah genap usia 9 bulan 10 hari

dan Saatnya ibu berjihad..  berjuang melahirkanmu Nak….

dzikir dan doa tak henti-hentinya mengayun di bibir ini

 

hingga akhirnya Atas izin Allah pula…

Dirimu terlahir ke dunia

Rasa sakit yang dialami telah tergantikan oleh kehadiran bayi mungil yang ada dipelukanku

Dengan suara tangis yang menghibur hati

Senyum simpul dan air mata bahagia mengiringi kehadiranmu

Alhamdulillah….. atas kado spesial menyambut Bulan Romadhon

 

Teruntuk Putera kami, “Hanan Taqi Aflaha” yang terlahir ke dunia pada tanggal 28 Juni 2013, semoga menjadi anak yang Sholih

-Peluk dan Cium dari Abi dan Ummi-

 

Peran Serta Ayah bagi Keluarga

Pada zaman dahulu, urusan mengenai rumah tangga dan pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya pada Ibu. Ibu berada di rumah melakukan pekerjaan rumah tangga, menjaga dan mengasuh anak-anaknya, sedangkan tugas Ayah sebagai kepala rumah tangga bekerja untuk mencari nafkah mencukupi kebutuhan keluarga, sama sekali tidak ikut campur atau melibatkan diri dalam urusan rumah tangga. Hal ini dianggap sebagai hal yang wajar. Bahkan sampai saat ini, ada keluarga yang masih menganut paham demikian.

Namun di era modern saat ini, seiring dengan kemajuan zaman yang kompleks, para orang tua baik suami dan istri dituntut untuk sama-sama bekerja di luar rumah, meniti karir dengan berbagai alasan. Bagi perempuan bekerja di luar rumah, bisa bermacam-macam tujuannya, antara lain untuk membantu suami menambah pendapatan keluarga, ingin menyalurkan hobi saja, atau bahkan menekuni pekerjaan tersebut untuk meniti jenjang karir. Sehingga dalam urusan rumah tangga, seperti menyiapkan makanan sehari-hari, menjaga kebersihan rumah, dan yang terpenting dalam pengasuhan anak, akan menjadi hal yang begitu rumit dan bisa membuat stres bagi keluarga jika tidak dilakukan secara bersama. Dalam pekerjaan rumah tangga, tentunya tugas tersebut tidak dibebankan semuanya pada Ibu saja karena hal itu akan membuat ibu stress, melelahkan fisik dan menguras energy dan pikirannya. Apalagi jika ibu tersebut bekerja di luar rumah, hal ini akan menyulitkan ibu untuk membagi waktunya antara urusan pekerjaan di luar rumah dengan di dalam rumah, dan ayah yang tidak mau melibatkan diri dalam pengasuhan anak, akan menjadikan kurangnya jalinan kasih sayang hubungan ayah dan anak. Sehingga pada zaman sekarang, peran ayah sangat dibutuhkan untuk membantu ibu dalam mengerjakan aktivitas rumah tangga dan pengasuhan anak, dari awal suami dan istri menata rumah tangganya, lalu si istri mengandung, melahirkan dan menyusui hingga si anak semakin tumbuh dewasa.

Suatu tim pertandingan dalam olahraga tidak akan memenangkan permainan, jika anggota tim tidak bekerja sama dengan baik. Seperti juga dalam keluarga, masing-masing anggota keluarga harus sama-sama membagi tugas, meringankan beban anggota yang lainnya, agar ayah dan ibu merasa senang, karena rumah tangga dibangun secara bersama, dan pengasuhan yang baik akan membentuk mental yang sehat pada anak.

Lalu apa saja peran yang dilakukan ayah bagi keluarga? Seorang ayah bisa membantu tugas rumah, seperti membersihkan rumah, bahkan bergantian dengan istri memasak di dapur. Terlebih lagi ketika istri sedang hamil dan menyusui, tentunya istri tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan maksimal, sehingga ayah dapat meringankan pekerjaan tersebut. Lalu ayah juga jangan lupa memberikan dukungan dan semangat pada ibu ketika hamil dan menyusui, dengan menciptakan suasana yang hangat, memperlakukan ibu dan janin yang ada dalam kandungan dengan cinta dan kasih sayang agar pikiran dan suasana hati ibu merasa bahagia dan janin pun juga merasakan kebahagiaan. Kemudian ketika ibu sudah melahirkan dan menyusui, ayah berfungsi sebagai ayah ASI atau ayah yang mendukung ASI, memberi dukungan dan semangat ibu dalam memberikan ASI, dan membantu ibu mengurus anak, misalnya menggendong, menimang-nimang, memandikan, menggantikan popok, baju dan sebagainya. Manfaat keterlibatan ayah dalam mengerjakan rumah tangga dan pengasuhan anak sebagai perekat hubungan ayah dan anak.

Lalu bagaimana bila suami tidak bersedia membantu istri dalam mengerjakan tugas rumah dan mengasuh anak? Dikarenakan suami terlalu sibuk di kantor sehingga tidak cukup punya banyak waktu di rumah, atau merasa kurang terampil dan kurang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal ini bisa istri komunikasikan dengan suami. Istri bisa membicarakan baik-baik, menanyakan alasan suami enggan membantu pekerjaan rumah, dan istri dapat mengutarakan harapannya, dengan berterus terang pada suami bahwa ia sebenarnya ingin suami membantu tugas rumahnya. Istri juga dapat mengajarkan suami sedikit demi sedikit cara mengerjakan tugas rumah dan mengasuh anak hingga ia merasa sanggup melakukannya, lalu istri juga dapat memberi kesempatan suami untuk meluangkan waktu berdua saja bersama anak.Dengan demikian ayah akan terbiasa mengerjakan aktivitas bersama anak dan mendekatkan hubungan ayah dengan anaknya. Hubungan ayah dan anak, sama pentingnya dengan hubungan anak dan ibu.

Akhir kata, perlunya bekerja sama, komunikasi, dan konsistensi antara ayah dan ibu dalam mengurus tugas rumah tangga dan mengasuh anak karena ayah dan ibu sebagai tim yang saling bantu-membantu agar terbentuk ikatan yang kuat dalam keluarga. Dan membuat ayah ibu sama-sama merasa puas.

Belajar pada si Kecil

ImageMasa anak-anak dibagi menjadi dua periode, periode awal dan periode akhir. Periode awal pada masa kanak-kanak dari usia 2 – 6 tahun, dan periode akhir terjadi pada akhir masa kanak-kanak dari usia 6 tahun sampai tiba saatnya anak matang secara seksual, kira-kira  13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Setelah anak matang secara seksual, maka ia disebut remaja. Pembahasan yang difokuskan dari tulisan ini, yaitu tentang masa awal kanak-kanak. Karena pada masa ini, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk mencetak generasi yang luar biasa. J

Kembali pada dunia anak. Dunia yang tidak lepas dari kelucuan, kepolosan, spontanitas dan kreativitas Dari keanekaragaman kekhasan anak-anak ini, jika kita perhatikan, ada banyak hal yang bisa orang dewasa pelajari. Kita bisa mempelajarinya melalui ciri khas pada awal masa kanak-kanak di bawah ini.

 

  1. a.   Usia Bermain

Sebutan usia bermain diberikan dari awal masa kanak-kanak sampai anak memasuki usia sekolah. Disebut juga dengan usia bermain karena pada masa ini, anak banyak menghabiskan waktu dengan bermain. Anak menunjukkan minat yang besar hingga mencapai puncaknya pada usia awal masa kanak-kanak, dan mengalami penurunan minat pada saat anak mencapai usia sekolah. Namun bukan berarti, minat bermain anak ketika memasuki sekolah sudah hilang. Anak-anak yang berada pada kelas 1 hingga kelas 3, masih melakukan permainan dan berbagai bentuk olah raga yang disesuaikan dan tidak ada satu pun yang menggunakan mainan. Namun kalau anak sedang sendirian, anak bermain lagi dengan mainannya sampai kelas 3 atau malahan sampai kelas 4.

Apa yang dapat kita pelajari dengan mengamati aktivitas bermain anak?

  1. Ketekunan

Bayi yang sedang dalam proses perkembangan fisiknya, belajar untuk merangkak, walaupun terjatuh, ia mencoba bangkit lagi sampai berhasil. Gagal, bangkit, gagal, bangkit lagi. Ketika terjatuh, sewajarnya bayi menangis, namun sifatnya hanya sebentar, setelah itu tangisannya akan berhenti, dan ia akan berusaha lagi untuk belajar merangkak. Lalu sedikit demi sedikit bayi mulai belajar merayap, berdiri, hingga berjalan.

Seperti ketika melihat seorang anak kecil yang sedang belajar menaiki sepeda. Wah, semangatnya luar biasa. Meskipun terjatuh kesakitan, setelah itu ia akan belajar menaiki sepedanya lagi sampai berhasil. Dan senyum kememanganpun terurai di wajahnya.

Orang dewasa dapat mencontoh sisi ketekunan, dan pantang menyerah si bayi dan anak tersebut. Kebanyakan anak tidak mengingat kegagalannya, ia hanya fokus untuk menekuni apa yang ia sukai sampai berhasil meraih tujuannya. Sepertu lagu anak-anak yang berjudul : “Aku Bisa… Aku Pasti Bisa… sekiranya ku tlah mencoba. Bila kugagal itu tak mengapa,.. yang pentingku sudah mencoba”     Lagu ini bisa menjadi motivasi anak-anak untuk terus semangat belajar.

 

  1. Keberanian

Pernah suatu ketika, saat menemani anak-anak bermain flying fox. Dengan ketinggian yang lumayan membuat saya agak merinding. Tetapi, anak-anak dengan tanpa ketakutan sedikitpun di wajah mereka, dengan senang hati mereka menaiki tangga, lalu bersiap-siap terjun untuk terbang, hingga sampai pada tujuan. Jujur saja, saya sendiripun sampai sekarang masih belum punya keberanian untuk menaiki flying fox. Saya harus belajar pada mereka J

Apa yang dapat kita pelajari? Anak-anak tidak melihat tantangan itu sebagai kesulitan atau hal yang menciutkan keberaniannya. Ia justru melihat sebagai kesenangan, ia bisa menikmatinya, melaluinya sampai ia berhasil pada tujuannya.

 

  1. Kerja Keras

Seorang anak ingin bermain balok susun. Katanya, ia akan membuat menara yang tinggiiiiiiiiiiiiiiii sekali…  Ketika menyusun balok-balok tersebut, ternyata baloknya roboh. Tidak berhenti sampai disitu, ia menyusun kembali baloknya, lalu terguling lagi, dan hancur seketika. Tetapi bukan anak-anak namanya, jika ia berhenti berusaha. Ia susun kembali balok-balok itu sambil ia hitung, dari balok ke-1…. 10, 11, 12, 13, 14, 15…… Horeeeeee… aku bisa buat menara yang tinggi, tidak roboh.

Dari contoh di atas, kita dapat mencontoh tentang sisi kerja keras anak dalam mencapai keinginannya tanpa mengeluh sedikitpun. Dalam hidup, ada kalanya upaya yang kita lakukan, seringkali mengalami hambatan, namun teruslah berupaya, karena kita tidak akan tahu sampai mana batas titik akhir keberhasilan kita, barangkali malah sudah dekat. J

  1. Upaya Mempertahankan Diri

 

Ketika mengamati beberapa anak yang sedang bermain bersama. Ada salah seorang anak yang merebut mainan temannya. Lalu, anak yang direbut mainannya, berusaha untuk mengambil mainannya kembali dan melindungi mainannya dari sergapan temannya.

 

Kegigihan dalam mempertahankan diri, dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari dalam mewujudkan kesuksesan.

  1. Usia kelompok

Disebut dengan usia kelompok karena pada masa ini, anak mempelajari  dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan untuk menyesuaikan diri memasuki sekolah dasar kelas 1.

 

  1. Cepat Bersosialisasi

Entah disadari atau tidak, ketika saya mengamati siswa–siswi baru pra sekolah yang belum saling mengenal di kelas. Dalam waktu sekejap saja, mereka akan saling menyapa, tanpa rasa malu, atau sungkan, hingga akhirnya mereka bermain bersama, walaupun baru mengenal. Kejadian ini juga didapati di arena bermain, sebuah mall. Anak-anak yang tidak saling kenal, tiba-tiba berlarian begitu saja, saling mendekat, bermain, tertawa atau bahkan menangis bersama karena bertengkar. Hal ini terjadi karena mereka sudah saling berinteraksi, menjalin hubungan pertemanan.

 

Kita sebagai orang dewasa dapat mempelajari kemampuan anak-anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain sebagai mahkluk individu, kita juga sebagai makhluk sosial, yang tidak lepas dari orang lain. Karena kita saling membutuhkan satu sama lain.

 

 

 

  1. Usia menjelajah atau usia Bertanya

Anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan. Salah satu cara yang umum dalam menjelajahi lingkungannya, yaitu dengan Bertanya. Maka masa ini disebut juga dengan usia Bertanya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkanpun seringkali membuat kita pusing dibuatnya.

Sayapun pernah mengalaminya waktu kecil, saya ingat betul, ketika saya masih TK, saya bertanya pada Bapak saya,” Pak, Allah itu bentuknya seperti apa? Pake apa? Pake topi atau mahkota gitu ya?” Yups, bayangan saya waktu kecil, seperti raja-raja yang memimpin sebuah istana. J dan Bapak sayapun dibuat bingung dengan menjawab pertanyaan saya.

 

  1. Rasa ingin tahu yang Besar

Menumbuhkan rasa ingin tahu ketika masa kanak-kanak sepertinya mudah sekali ya dilakukan, mereka seperti investigator atau penyelidik yang haus akan pengetahuan. Hmm, sebagai orang dewasa jangan kalah dengan anak-anak, kita seharusnya juga tidak kalah tekunnya dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, mencari tahu, memahami, mendalami, mengkaji atau mengkritisi sesuatu hal dari waktu ke waktu. Agar ketika ditanya anak-anak nanti kelak kita akan siap dengan pertanyaan – pertanyaan unik mereka. Bekal pengetahuan yang kita miliki tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, khususnya putera-puteri kita. J

 

  1. Usia Meniru

Anak suka meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Wow, ia begitu cepat dan pintar sekali menirukan apa saja yang ia lihat dan ia dengar. Terlebih ketika anak menirukan model iklan di TV atau adegan tokoh film kartun kesayangannya. Ia juga suka meniru perilaku orang tuanya atau orang-orang yang ada di dekatnya. Saya tergelitik melihat tetangga saya yang bermain di rumah saya memakai kacamata ibu saya dan menulis di kertas, sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang melorot karena kebesaran. Hihihi lucu sekali ,melihatnya. Ternyata ia sebelumnya memperhatikan perilaku ibu saya yang terkadang memakai kaca mata sambil menulis. Lalu ia juga pernah memakai sepatu hak tinggi saya dengan tertatih-tatih berjalan menggunakan sepatu itu.

 

  1. Melakukan Proses Belajar

 

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita di atas? Ada proses belajar yang dialami anak. Anak belajar melakukan pengamatan, lalu merekam informasi yang ia terima, kemudian menirunya. Namun anak diarahkan untuk meniru perkataan dan perilaku yang positif. 

 

 

  1. Usia Kreatif

Masa yang menunjukkan kreatifitas ketika bermain, dibandingkan masa-masa yang lain dalam kehidupannya.

 

Saya melihat anak-anak dengan hasil karyanya yang luar biasa, menggambar istana kerajaan, dengan penduduk yang tinggal di sana, lalu ia menceritakan dengan panjang lebar, apa saja yang ia gambar di kertasnya. Di sisi lain, anak-anak bermain pura-pura, ada yang berperan menjadi seorang ayah, ibu, dan  anak. Merekalah yang berinisiatif membagi perannya sendiri, dengan ide-ide cerita yang menarik, anak-anak berperan sesuai dengan peran yang ia jalani.

 

  1. Memiliki Kreativitas

 

Sebagai orang dewasa, kita terpacu dengan anak-anak yang memiliki daya imajinasi dan fantasi yang luar biasa. Tentu hal yang positif dari anak, yaitu keingianan mencoba dan mengetahuinya yang tinggi. Konon, daya imajinasi manusia, dari mulai masa kanak-kanak menuju masa dewasa lambat laun akan semakin berkurang.  Karena kemampuan otak atau sinapsis anak dua kali lebih besar dibandingkan orang dewasa, sehingga anak-anak tidak memiliki batasan pandangan terhadap dunia. Hmm…. Namun, jangan khawatir terhadap anggapan usia tersebut, karena kita sebagai orang dewasa juga dapat mengasah kreativitas dengan stimulus yang tepat dan gairah untuk belajar. Maka kita akan meningkatkan kemampuan otak dan pikiran kita. J

 

Itulah secuplik tentang kedahsyatan yang dimiliki anak-anak. Semoga kita dapat termotivasi dan bergairah untuk belajar melakukan hal-hal yang positif dari mereka.

`

 

Referensi :

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga

 

Sepenggal Kata untuk Ibu

Bunga di sepanjang jalan tahu

bahwa keindahanmu lebih mempesona

Kupu-kupu yang beterbangan pun tahu

bahwa kecantikanmu lebih menawan

Mentari yang terbit membelah cakrawala juga tahu

bahwa senyummu lebih menyejukkan hati

Hingga Semesta alam di penjuru dunia pun tahu

bahwa hatimu lebih luas dari samudera

Jiwamu melebihi beningnya embun

Kasihmu lebih besar dari dunia dan isinya

Dan aku yang terlahir dari rahimmu tahu

Cintamu tak akan pernah mati

IBU….

Selamat hari Ibu…. Image

Mendidik Anak dengan CINTA (Peran Keluarga dalam Pendidikan Moral Sejak Usia Dini)

            Bangsa yang baik adalah bangsa yang memiliki jati diri dan mampu mempertahankannya.  Jati diri merupakan nilai-nilai kepribadian yang baik, yang terangkum dalam dasar Negara Indonesia, yaitu Pancasila. Di dalam Pancasila berbicara tentang harapan yang ingin dimiliki bangsa ini berupa nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Kemusyawaratan serta Keadilan. Nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila  adalah nilai kepribadian atau jati diri.  Pada kenyataannya, apakah nilai-nilai Pancasila sudah tercermin, mengakar, dan mendarah daging dalam jiwa bangsa Indonesia? Mari kita sama-sama introspeksi pada diri kita masing-masing.

Seperti yang sudah saya singgung di atas bahwa bangsa yang baik adalah bangsa memiliki jati diri yang kuat, dapat dikenali dari identitas negaranya, dan tercermin dari sikap dan perilaku baik dari bangsanya. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara bangsa tersbeut mempertahankan jati dirinya? Tentunya masyarakatnya memiliki pola kebiasaan yang mereka pelajari dari pendidikan yang dimulai dari usia anak-anak. Anak-anak dari negara yang berkarakter diharuskan untuk belajar dari pengalaman di lingkungan sosialnya melalui pendidikan berupa pembiasaan secara terus-menerus hingga menjadi karakter yang kuat dalam diri mereka. Pendidikan tersebut biasa kita kenal dengan pendidikan moral. Pendidikan moral berkomitmen menumbuhkembangkan peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasikan kebajikan, dan terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam upaya mengembangkan kepribadian pada anak diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Konsep ini disebut dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu di rumah atau dalam keluarga (pendidikan informal), di sekolah (pendidikan formal), dan di masyarakat (pendidikan nonformal). Ketiga aspek tersebut harus bersatu memberi pengaruh positif dan kondusif dalam membangun kepribadian anak. Terutama aspek pemberdayaan pendidikan informal dalam keluarga memiliki peran penting karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Nilai-nilai kebiasan baik dan buruk harus dikenalkan dan ditanamkan dalam diri anak.

Dalam keluarga, peran orang tua sebagai orang terdekat sangat penting dalam mengenalkan kebiasaan baik. Anak berinteraksi dengan orang tua (atau pengganti orang tua) dan segenap anggota keluarga lainnya. Ia memperoleh pendidikan informal berupa pengetahuan, pembiasaan-pembiasaan (habit formations), seperti cara makan, tidur, bangun pagi, sikat gigi, mandi, berpakaian, tata karma, sopan santun, religi, dan lain-lain. Pendidikan keluarga akan banyak membantu dalam meletakkan dasar pembentukan kepribadian anak. Misalnya sikap religius, disiplin, lembut atau kasar, rapi atau rajin, penghemat atau pemboros, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat tumbuh bersemi dan berkembang senada dan seirama dengan kebiasaannya di rumah.

Para orang tua tentunya memiliki harapan yang besar agar anaknya menjadi anak yang sukses dan berhasil di masa depan. Orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang cerdas, berperilaku baik, sholih, tanggung jawab, mandiri, dan lain-lain. Namun, yang kita ketahui orang tua saat ini lebih mengutamakan kecerdasan intelektual berupa prestasi akademik sekolah. Orang tua lebih khawatir kalau anaknya mendapat nilai buruk di mata pelajaran matematika, bahasa inggris, dan sebagainya sehingga segala upaya dikerahkan orang tua agar anaknya memperoleh nilai bagus di ujian matematika, dan sebagainya, seperti mengikutkan kegiatan les, bimbingan belajar, les privat setiap pulang sekolah yang justru bisa menambah beban anak karena anak sudah menghabiskan banyak waktu belajar di rumah dan di sekolah. Jika anak mendapatkan banyak jam les, lalu anak tidak mampu menyerap informasi yang ia terima, maka pikiran anak menjadi tidak fokus, belum lagi anak yang mengikuti school day. Itulah yang terjadi jika orang tua menganggap kesuksesan seseorang diukur berdasarkan nilai atau perestasi akademik saja.

Seharusnya kecerdasan diukur dari dua aspek, yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral.  Karena pada kenyataannya dalam kehidupan bermasyarakat ke depan untuk dapat bertahan hidup, diterima masyarakat, serta tetap berkembang sebagai pribadi, kecerdasan intelektual bukanlah syarat utama. Di negeri ini, banyak orang pintar, kaya, namun ia menyalahgunakan kepintaran dan kekuasaannya untuk menindas masyarakat kurang mampu. Contohnya para pemimpin negeri ini, mereka memiliki wawasan yang tinggi, namun memiliki kecerdasan moral yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan tindakan korupsi yang tumbuh dengan subur di Indonesia.

Berbicara tentang kecerdasan moral, terlebih dahulu kita akan mengupas tentang moral. Apa itu moral? Suatu kepribadian, karakter, yang marak kita dengar, dan didengung-dengungkan di berbagai media. Moral adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku. Jika orang tua menginginkan anaknya memiliki kecerdasan moral, maka orang tua harus menanamkan pendidikan moral. Karena pendidikan moral penting dibutuhkan anak agar anak dapat mempertahankan dirinya dari pengaruh negatif yang nantinya akan mempengaruhi pribadi dan kehidupannya.  Selain itu,  pentingnya pendidikan moral bagi anak adalah untuk menumbuhkan nilai-nilai moral yang baik pada diri anak, agar secara mandiri anak mampu memilah mana yang positif dan mana yang negatif. Tanpa bimbingan dan pengawasan dari orang tua atau pihak lain di kemudian hari, anak diharapkan mampu menentukan segala tindakannya dalam batasan yang positif.  Kelak di kehidupan masa remajanya, anak yang memiliki nilai-nilai moral positif dalam hidupnya, maka dapat terhindar dari kenakalan remaja.

Untuk itu, sebaiknya perlu diketahui cara yang tepat dan efektif bagi anak dalam mempelajari perilaku moral. Cara-cara dalam memberikan pembelajaran moral pada anak, yaitu pertama, cara coba ralat. Coba ralat artinya anak belajar bertingkah laku yang dapat diterima lingkungan sosialnya dengan cara mencoba suatu bentuk tingkah laku. Jika reaksi tidak menyenangkan, maka anak akan memperbaikinya dengan mencoba tingkah laku lain. Begitu seterusnya hingga mendapat respon yang positif dari lingkungan. Namun cara ini kurang efektif karena membutuhkan waktu lama. Kedua, dengan cara pendidikan langsung. Cara ini mengutamakan proses  belajar yang melibatkan anak untuk langsung belajar bereaksi dengan tepat pada situasi sosial yang ia jalani. Anak dilatih untuk menilai situasi sosial dan mengantisipasi kemungkinan apa yang akan terjadi. Ketiga, dengan cara identifikasi. Bila anak menyukai atau mengagumi seseorang, maka biasanya ia mengidentifikasi dirinya dengan orang tersebut, ia akan meniru perilaku orang tersebut terutama menyerap nilai moral orang tersebut. Pada usia dini, anak mengidentifikasi keluarga inti terutama orang tuanya. Ketika anak semakin besar, anak mulai mengenal orang lain, selain keluarga inti. Pada saat inilah anak mulai mengidentifikasi orang lain di luar keluarganya. Selama nilai yang diidentifikasi dari lingkungan luar rumah tidak bertentangan dengan nilai moral yang ditanamkan dari keluarganya, maka tidak akan menjadi masalah. Namun, jika terjadi pertentangan antara nilai moral yang ia miliki dari rumah (orang tua) dengan nilai yang ia dapat dari lingkungan luar (teman sebaya), maka nilai moral dari orang yang diidentifikasi menjadi penting karena menjadi pegangan bagi anak dalam mengatasi kebingungan dan kesenjangan antara nilai moral rumah dengan nilai moral lingkungan.

Perkembangan moral anak, sebelum ada pengaruh lingkungan dari luar rumah, dipengaruhi oleh kedekatan anak dan orang tua serta teladan dari orang tua. Maka, orang tua sebagai figur terdekat anak memiliki peran yang penting bagi anak dalam menyerap nilai moral untuk menyaring pengaruh buruk dari lingkungan luar rumah.

Dalam proses memberikan pendidikan moral pada anak, tentunya ada hambatan-hambatan yang muncul karena sifat moral yang abstrak dan konsep abstrak yang dimiliki anak belum kuat sehingga anak butuh  waktu untuk memahami moral.  Sehingga orang tua harus lebih sabar dan telaten dalam membimbing anaknya dalam memberikan pengajaran moral.

Lalu aspek positif apa saja yang diperoleh anak ketika ia belajar moral? Pertama, anak dapat mempelajari apa yang diharapkan dari lingkungan sosial, berupa hukum, kebiasaan setempat, dan aturan yang berlaku. Kedua, anak belajar mengembangkan hati nurani. Ketiga, anak belajar mengalami rasa bersalah dan rasa malu. Keempat, anak memiliki kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Penerapan nilai-nilai moral yang dikembangkan dalam diri anak, terbagi menjadi dua macam, yaitu nilai individu dan nilai sosial. Nilai individu adalah nilai yang terdapat dalam diri individu. Yang termasuk nilai-nilai individu adalah kejujuran, disiplin, dan hati nurani. Sedangkan nilai sosial adalah nilai yang berkaitan dengan kebersamaan individu dalam masyarakat, seperti empati, menghormati orang lain, kontrol diri, dan keadilan.

Nilai individu tentang kejujuran. Kejujuran menjadi penting karena anak mengakui apa yang ia pikirkan, ia rasakan, dan ia lakukan sebagaimana adanya, seseorang dapat terhindar dari rasa bersalah yang timbul akibat kebohongan yang ia lakukan. Tentunya orang tua menjadi teladan utama bagi anaknya dalam menerapkan kejujuran. Berikutnya nilai individu berupa kedisiplinan. Kedisiplinan membantu anak untuk dapat mengendalikan diri, anak dapat memperoleh batasan untuk memperbaiki tingkah lakunya yang salah. Disiplin mendorong anak memperoleh perasaan puas karena kesetiaan dan kepatuhannya. Disiplin juga mengajarkan anak bagaimana berpikir secara teratur. Agar kedisiplinan dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya, maka diperlukan syarat utama pendukung, yaitu adanya peraturan, konsistensi dan penghargaan yang diberikan pada anak. Nilai individu yang lainnya yaitu hati nurani. Hati nurani disebut juga perasaan memiliki kepedulian dan perhatian terhadap orang lain. Dengan memiliki perasaan tersebut anak akan seringkali melakukan perbuatan menyenangkan bagi orang lain bahkan mengabaikan kepentingan diri sendiri karena lebih mementingkan orang lain, anak belajar berpikir positif, dan juga anak tidak mengharapkan balasan apapun dari orang lain.

Nilai sosial berupa empati. Empati merupakan kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain untuk mengerti dan merasakan pemikiran serta perasaan orang lain. Dengan empati anak dapat menghindarkan diri dari melakukan perbuatan keji karena anak paham efek negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tidak bermoral tersebut. Anak yang memiliki empati yang baik akan mempunyai kemampuan tenggang rasa terhadap orang lain dan peka terhadap situasi orang lain. Cara mengembangkan empati, yaitu dengan keteladanan orang tua serta orang tua menjelaskan apa tujuan dan manfaat yang diperoleh anak jika anak berempati. Nilai berikutnya, menghormati dan menghargai orang lain. Proses pembelajaran nilai ini, kembali lagi dari keteladanan orang tua. Anak akan menghormati orang lain ketika ia merasa orang lain (orang tua) menghormati dirinya. Karena merasa dihormati orang lain, maka anak menumbuhkan rasa menghormati diri sendiri. Faktor penunjang yang penting dalam dalam upaya menghormati dan menghargai orang lain, yaitu dengan bantuan tiga kata ajaib : mengucapkan terima kasih, tolong, dan maaf. Orang tua memberikan keteladan dalam menerapkan ketiga kata ajaib tersebut dalam kegiatan sehari-hari dan menjelaskan kegunaannya pada anak. Nilai sosial berikutnya, yaitu nilai kontrol diri, termasuk di dalamnya berupa ekspresi emosi. Ekspresi emosi berkaitan erat dengan relasi anak dengan lingkungan. Seorang anak bisa memiliki berbagai ekspresi untuk mengungkapkan perasaan. Maka anak harus memilih untuk melakukan cara yang dapat diterima lingkungan dengan tetap membuat dirinya nyaman.  Orang tua dapat menggunakan berbagai cara untuk melakukan pembelajaran terkait pelepasan emosi, yaitu melalui diskusi cerita, contoh sehari-hari, film, buku cerita, boneka, dan mengajarkan anak ekepresi emosi. Nilai sosial selanjutnya berupa keadilan. Adil artinya perasaan atau keyakinan yang memberikan motivasi untuk bersikap jujur, bertindak benar, dan berbagi dengan orang lain. Dalam mengembangkan aspek moral keadilan kurang lebih sama dengan aspek moral lainnya, yaitu memberi teladan dan bersikap adil pada anak. Beberapa cara permainan untuk mengajarkan keadilan pada anak adalah dengan menetapkan aturan, bergiliran belajar, bermain atau mengejarkan tugas, menjalankan kesepakatan, menerapkan undian untuk pengambilan keputusan, dan pembatasan waktu dalam bermain.

Nilai-nilai moral yang dijabarkan di atas, jika orang tua terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cinta yang tulus, keteladanan, serta penjelasan orang tua sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak, maka anak akan memahami nilai-nilai moral tersebut. Harapan kita semua dengan adanya peran keluarga dalam mengembangkan nilai-nilai moral, anak akan memiliki bekal moral yang kuat, karena anak akan kebal menghadapi setiap godaan moral dari lingkungan. Orang tua harus memiliki kemauan dan kemampuan mengembangkan nilai moral pada anak-anaknya agar mampu mewujudkan cita-citanya memiliki anak yang berhasil tidak hanya secara akademis, tetapi juga mentalitas yang kuat, kepribadian baik dan sholih. Dengan moral yang baik, negara Indonesia mampu mencetak generasi yang berkarakter, memiliki jati diri bangsa yang kokoh, meneruskan nilai-nilai luhur nenek moyang, melestarikan dasar negara kita, yaitu Pancasila dan mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia.

Referensi : Ibung, Dian. Mengembangkan Nilai Moral Pada Anak. 2009. Jakarta : Elex Media Komputindo

Image

Aku Terlahir Karena Cinta

Aku Terlahir Karena Cinta

Atas izinNya dan KepercayaanNya

Allah mengirimku ke bumi

Untuk membawa pesan dan menyampaikan tujuan

 

Aku Terlahir Karena Cinta

Allah telah meniupkan Cinta

Untuk disemayamkan di hati dua insan

yang membetuk ikatan kasih sayang

Dalam jalinan indahnya pernikahan

 

Aku terlahir karena cinta

Cinta yang Agung dari Allah

CInta yang tulus dari Ayah dan Ibu

Cinta seorang Ibu yang terus mengalir

selama mengandungku, menyusuiku hingga melahirkanku

Dengan seluruh perjuangan dan pengorbanan yang diberikan kepadaku

dan mengajariku dengan kelembutan hatinya

Cinta Ayahku yang bersedia menjagaku seutuhnya

Mengerahkan seluruh tenaganya, keringat, dan peluhnya

Memastikanku tumbuh dewasa menjadi pribadi yang kuat

Menghadapi segala tempaan hidup

 

Aku terlahir karena cinta

Di hatiku telah tumbuh dan bersemi sebentuk cinta

Cinta yang yang akan slalu menerangi langkahku pada jalan kegelapan

Membuka setiap kebuntuan dan kesesatan

Untuk menuntunku berpegang teguh pada jalan kebenaran

 

 

 Image

“Pentingnya Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan”

Memiliki anak yang sholih sholihah, berakhlak baik, cerdas merupakan dambaan setiap orang tua. Semua orang tua menginginkan yang terbaik agar membuat anaknya bahagia. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua. Banyak cara agar memiliki anak yang hebat dan berkualitas , antara lain memberikan asupan gizi yang seimbang, memilihkan pendidikan yang terbaik, menanamkan kebiasaan-kebiasaan dan keteladanan yang baik pada anak.

Berbicara tentang pendidikan, kita semua mengetahui bahwa memberikan pendidikan yang tepat pada anak hendaklah dimulai sejak dalam kandungan. Mengapa stimulasi pralahir begitu penting? Karena menurut beberapa penelitian dari para ilmuwan perkembangan pralahir, selama berada dalam rahim, anak dapat belajar menerima beragam sensasi indra dari luar rahim, mulai dari indra peraba (sentuhan dan rabaan orang tua, benda-benda di sekitarnya), indra pendengaran (suara orang tuanya, benda-benda di sekitarnya), indra penglihatan (melihat gelap dan terang). Pendidikan pralahir dapat melatih otak dan perkembangan saraf bayi sebelum dilahirkan. Dengan begitu anak bisa siap menerima respon yang ada di lingkungannya setelah dilahirkan.

Stimulasi pralahir memberikan banyak manfaat bagi anak :

  1. Anak merasa lebih tenang, waspada, dan bahagia.
  2. Anak mampu mengontrol gerakan-gerakan mereka. Mereka lebih siap menjelajahi dan mempelajari lingkungan setelah dilahirkan
  3. Meningkatkan kecerdasan otak bayi
  4. Menjaga keseimbangan komunikasi lebih baik antara anak dan orang tuanya, anggota keluarganya, dan lingkungannya

Pendidikan pralahir bisa dilakukan dengan berbagai cara :

1. Memperbanyak Dzikir dan Berdoa

Selama menjalani kehamilan, seorang Ibu hendaknya rajin mendekatkan diri pada Allah. Menunaikan ibadah-ibadah wajib dan sunah. Melakukan sholat, mengaji, banyak mengucap dzikir, dan berdoa, memanjatkan rasa syukur pada Allah atas KaruniaNya yang Indah, berupa anak yang dikandung, melayangkan harapan dan doa-doa padaNya agar bayinya terlahir dengan selamat dan sehat, tumbuh cerdas dan berakhlak baik, menjadi anak sholih sholihah.  Dengan begitu, bayi akan belajar untuk mengenal Allah, dan doa yang dipanjatkan si ibu hendaknya diikuti dengan kepasrahan pada Allah karena Allah yang memberikan ketetapan terbaik.

2. Melibatkan dalam aktivitas Positif

Ibu dan janin dalam kandungan memiliki ikatan emosi yang begitu kuat. Jadi, apapun yang dilakukan si Ibu akan berdampak langsung pada perkembangan janin. Maka, seorang ibu yang sedang hamil harus benar-benar menjaga sikap, perkataan, dan perilakunya sehari-hari. Mengupayakan agar pikirannya positif, berprasangka baik, hatinya selalu gembira, mengucapkan kata-kata yang baik, serta mengikuti kegiatan positif, seperti kajian-kajian islam yang akan berpengaruh pada mental dan fisik janin. Dengan aktifitas positif, janin akan merasakan ketenangan. Beda halnya jika ibu selalu marah-marah, mengucapkan kata-kata yang tidak baik, maka bayi akan merekam pembicaraan yang tidak baik tersebut, sehingga akan membuat janin tidak nyaman, dan ketika lahir bayi bisa menjadi rewel.

3. Stimulasi Indra Janin

-Indra Penglihatan : memberikan stimulus cahaya pada perut ibu ketika usia kandungan 6 bulan, maka janin akan dapat membedakan gelap dan terang

-Indra Pendengaran :  orang tua melakukan komunikasi secara intens pada janin, mengucapkan kata-kata yang positif dengan gembira, memperdengarkan suara-suara bunyi-bunyian, music klasik, dan yang lebih utama saya lebih setuju agar janin dibiasakan mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an agar anak merasakan kedamaian dan ketenangan serta belajar Al-Qur’an sejak dalam kandungan.

– Indra Peraba : Memberikan elusan yang hangat disertai dengan berkomunikasi pada janin, bisa juga dengan menyiram air dingin pada perut ibu, maka bayi akan meresponnya dengan bergerak.

Demikian sekelumit cerita mengenai pentingnya pendidikan pralahir bagi anak. Subhanallah, luar biasanya mempersiapkan calon bayi yang sholih sholihah. Jangan lupa, selama hamil, Ibu harus menjalaninya dengan Ikhlas dan Gembira, menghindari stress pula karena dengan menciptakan suasana yang positif, maka bayipun juga akan ikut merasakan Kebahagiaan Moms..……. ^_^

Selamat mempersiapkan Kehadiran si Kecil Imageyang Sholih dan Sholihah….. ^_^

 

 

 Referensi : Nurul Chomaria. 2012. Seputar Kehamilan. Jakarta : Elex Media Komputindo

“Masa Anak-anak adalah Masa Penentu”

Masa anak-anaImagek adalah salah satu tahapan dalam kehidupan manusia. Tahapan yang selengkapnya,yaitu dimulai dari masa bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Masa ini merupakan masa yang penting karena menjadi penentu bagi masa-masa berikutnya. Karena perkembangan jiwa dan perilaku anak-anak mempengaruhi perkembangan jiwa dan perilaku di masa dewasa. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapatkan hak-hak mereka, yaitu pendidikan dan bimbingan yang memadai dari orang tua, guru, dan orang-orang di sekitarnya.

Masa anak-kanak sejatinya merupakan masa yang bahagia. Sejenak saya memutar waktu, kembali ke masa kanak-kanak saya dulu. Yang terlintas di hati dan pikiran saya, saya bisa bermain sepuasnya, menghirup alam bebas,  berlarian, tidak ada beban dan tanggung jawab berat yang menggelayut di pikiran, sungguh menyenangkan. Tetapi,  sayapun menyadari bahwa tidak semua anak-anak di dunia ini,  seberuntung saya dan teman-teman yang lain yang memiliki pengalaman yang menyenangkan di masa kanak-kanaknya. Banyak juga di antara kita, yang harus bekerja sejak kecil, karena keadaan yang memaksa mereka berbuat demikian. Sehingga kebahagiaan mereka terenggut oleh kerasnya kehidupan, oleh pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tugas dan tanggung jawab yang dipikulnya. Walaupun demikian, kita tidak bisa menjamin, bahwa mereka tidak bisa menjadi individu yang sukses di masa dewasa. Banyak orang-orang yang sukses, yang di waktu masa kecilnya, ia  harus bekerja keras, namun ia dapat tumbuh menjadi anak yang mandiri, memiliki mental yang kuat, dan tidak mudah mengeluh dan menyerah karena ia ingin membuktikan pada dunia bahwa suatu saat nanti ia bisa meraih mimpi-mimpi besarnya.

Seluruh orang tua di dunia ini memiliki harapan agar anaknya lahir dan tumbuh sehat, cerdas, berakhlaqul karimah, berkarakter, menjadi orang yg bermanfaat bagi lingkungannya, dan sukses mewujudkan cita-citanya. Untuk mewujudkan harapan tersebut orang tua tentunya melakukan upaya dengan cara memberi pengasuhan dan pendidikan yang baik , memberikan hak-hak untuk anaknya (memenuhi kebutuhan secara fisik ; nutrisi gizi seimbang, kebutuhan kognitif; stimulasi mencerdaskan otak, kebutuhan mental dan spiritual ; menanamkan nilai-nilai moral, nilai-nilai agama, pembiasaan perilaku yang baik, keteladanan, kebutuhan sosial emosi ; memberikan cinta, perhatian, dan kasih sayang seutuhnya)

Namun kenyataannya, tidak mudah sebagai orang tua untuk mengasuh anak-anaknya dengan baik. Zaman semakin berkembang, teknologi semakin canggih, yang memberikan pengaruh yang luar biasa bagi mental dan kejiwaan anak. Jika di masa ini, anak kurang mendapatkan perhatian, pendidikan agama dan bimbingan yang memadai, maka hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan perilaku anak di masa remaja dan dewasa. Sebaliknya jika anak meperoleh pendidikan yang memadai dari keluarga, maka ketika anak berada di luar rumah, jauh dari keluarga, berinteraksi di lingkungan yang lebih luas, bahkan berhadapan dengan pengaruh-pengaruh buruk, maka anak tersebut tidak akan mudah terpengaruh dengan pengaruh negatif. Karena pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak.

Sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin berpesan bahwa kehadiran anak merupakan dambaan bagi pasangan suami istri. Terlebih lagi, pasangan suami istri yang menikah, namun belum dikaruniai seorang anak dalam jangka waktu yang lama. Pastinya dengan hadirnya anak akan menjadi pelengkap kebahagiaan mereka. Namun, tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua tidak mudah. Karena anak adalah amanah dari Allah, dan orang tua harus menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, dan kelak akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat.

Oleh sebab itu, persiapan menjadi orang tua sangatlah penting bagi calon istri dan suami. Yang lebih utama, dengan berupaya memperbaiki diri terlebih dulu agar menjadi suami/istri yang baik bagi pasangan kita dan menjadi orang tua yang baik bagi anak kita, tidak hanya sibuk untuk menyiapkan materi saja,  kesiapan mental, kedewasaan, kesabaran, keluasan hati, serta adanya penerimaan terhadap apa-apa yang menjadi ketetapan Allah, tidak kalah pentingnya. Insya Allah laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan yang baik, dan sebaliknya. Sehingga pasangan yang baik ini diharapkan akan menghasilkan keturunan yang baik, sholih sholihah, generasi yang unggul, cerdas, berakhlaq mulia, dan bermanfaat bagi lingkungannya ^_^

Sekapur Sirih …..

Assalamu’alaikum.

Perkenalkan saya Lutfa…  Di sini izinkan saya bercerita seputar anak-anak dan wanita. Hal-hal yang berkaitan tentang sisi kehidupan anak-anak dan wanita. Mengapa saya tertarik berbicara tentang anak-anak dan wanita? Karena mereka adalah sosok-sosok yang menakjubkan, menyimpan banyak segudang peristiwa, memberikan  inspirasi, pencerahan, membuka mata hati dan pikiran saya mengenai kehidupan, menyadari betapa luar biasanya peran mereka bagi perubahan dunia….

Karena Saya MENCINTAI MEREKA…

Karena Kita Semua sama-sama MENCINTAI MEREKA…..

 

Saya terlahir di dunia ini juga karena Seorang Wanita yang Luar Biasa….

Terima Kasih IBU….

Kami mencintai IBU……

 

 

Lindungi Anak-anak dan Wanita …….

SENYUMMU MENGINSPIRASI Kita Semua…… ^_^

Wassalamu’alaikum