Mendidik Anak dengan CINTA (Peran Keluarga dalam Pendidikan Moral Sejak Usia Dini)

            Bangsa yang baik adalah bangsa yang memiliki jati diri dan mampu mempertahankannya.  Jati diri merupakan nilai-nilai kepribadian yang baik, yang terangkum dalam dasar Negara Indonesia, yaitu Pancasila. Di dalam Pancasila berbicara tentang harapan yang ingin dimiliki bangsa ini berupa nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Kemusyawaratan serta Keadilan. Nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila  adalah nilai kepribadian atau jati diri.  Pada kenyataannya, apakah nilai-nilai Pancasila sudah tercermin, mengakar, dan mendarah daging dalam jiwa bangsa Indonesia? Mari kita sama-sama introspeksi pada diri kita masing-masing.

Seperti yang sudah saya singgung di atas bahwa bangsa yang baik adalah bangsa memiliki jati diri yang kuat, dapat dikenali dari identitas negaranya, dan tercermin dari sikap dan perilaku baik dari bangsanya. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara bangsa tersbeut mempertahankan jati dirinya? Tentunya masyarakatnya memiliki pola kebiasaan yang mereka pelajari dari pendidikan yang dimulai dari usia anak-anak. Anak-anak dari negara yang berkarakter diharuskan untuk belajar dari pengalaman di lingkungan sosialnya melalui pendidikan berupa pembiasaan secara terus-menerus hingga menjadi karakter yang kuat dalam diri mereka. Pendidikan tersebut biasa kita kenal dengan pendidikan moral. Pendidikan moral berkomitmen menumbuhkembangkan peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasikan kebajikan, dan terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam upaya mengembangkan kepribadian pada anak diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Konsep ini disebut dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu di rumah atau dalam keluarga (pendidikan informal), di sekolah (pendidikan formal), dan di masyarakat (pendidikan nonformal). Ketiga aspek tersebut harus bersatu memberi pengaruh positif dan kondusif dalam membangun kepribadian anak. Terutama aspek pemberdayaan pendidikan informal dalam keluarga memiliki peran penting karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Nilai-nilai kebiasan baik dan buruk harus dikenalkan dan ditanamkan dalam diri anak.

Dalam keluarga, peran orang tua sebagai orang terdekat sangat penting dalam mengenalkan kebiasaan baik. Anak berinteraksi dengan orang tua (atau pengganti orang tua) dan segenap anggota keluarga lainnya. Ia memperoleh pendidikan informal berupa pengetahuan, pembiasaan-pembiasaan (habit formations), seperti cara makan, tidur, bangun pagi, sikat gigi, mandi, berpakaian, tata karma, sopan santun, religi, dan lain-lain. Pendidikan keluarga akan banyak membantu dalam meletakkan dasar pembentukan kepribadian anak. Misalnya sikap religius, disiplin, lembut atau kasar, rapi atau rajin, penghemat atau pemboros, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat tumbuh bersemi dan berkembang senada dan seirama dengan kebiasaannya di rumah.

Para orang tua tentunya memiliki harapan yang besar agar anaknya menjadi anak yang sukses dan berhasil di masa depan. Orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang cerdas, berperilaku baik, sholih, tanggung jawab, mandiri, dan lain-lain. Namun, yang kita ketahui orang tua saat ini lebih mengutamakan kecerdasan intelektual berupa prestasi akademik sekolah. Orang tua lebih khawatir kalau anaknya mendapat nilai buruk di mata pelajaran matematika, bahasa inggris, dan sebagainya sehingga segala upaya dikerahkan orang tua agar anaknya memperoleh nilai bagus di ujian matematika, dan sebagainya, seperti mengikutkan kegiatan les, bimbingan belajar, les privat setiap pulang sekolah yang justru bisa menambah beban anak karena anak sudah menghabiskan banyak waktu belajar di rumah dan di sekolah. Jika anak mendapatkan banyak jam les, lalu anak tidak mampu menyerap informasi yang ia terima, maka pikiran anak menjadi tidak fokus, belum lagi anak yang mengikuti school day. Itulah yang terjadi jika orang tua menganggap kesuksesan seseorang diukur berdasarkan nilai atau perestasi akademik saja.

Seharusnya kecerdasan diukur dari dua aspek, yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral.  Karena pada kenyataannya dalam kehidupan bermasyarakat ke depan untuk dapat bertahan hidup, diterima masyarakat, serta tetap berkembang sebagai pribadi, kecerdasan intelektual bukanlah syarat utama. Di negeri ini, banyak orang pintar, kaya, namun ia menyalahgunakan kepintaran dan kekuasaannya untuk menindas masyarakat kurang mampu. Contohnya para pemimpin negeri ini, mereka memiliki wawasan yang tinggi, namun memiliki kecerdasan moral yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan tindakan korupsi yang tumbuh dengan subur di Indonesia.

Berbicara tentang kecerdasan moral, terlebih dahulu kita akan mengupas tentang moral. Apa itu moral? Suatu kepribadian, karakter, yang marak kita dengar, dan didengung-dengungkan di berbagai media. Moral adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku. Jika orang tua menginginkan anaknya memiliki kecerdasan moral, maka orang tua harus menanamkan pendidikan moral. Karena pendidikan moral penting dibutuhkan anak agar anak dapat mempertahankan dirinya dari pengaruh negatif yang nantinya akan mempengaruhi pribadi dan kehidupannya.  Selain itu,  pentingnya pendidikan moral bagi anak adalah untuk menumbuhkan nilai-nilai moral yang baik pada diri anak, agar secara mandiri anak mampu memilah mana yang positif dan mana yang negatif. Tanpa bimbingan dan pengawasan dari orang tua atau pihak lain di kemudian hari, anak diharapkan mampu menentukan segala tindakannya dalam batasan yang positif.  Kelak di kehidupan masa remajanya, anak yang memiliki nilai-nilai moral positif dalam hidupnya, maka dapat terhindar dari kenakalan remaja.

Untuk itu, sebaiknya perlu diketahui cara yang tepat dan efektif bagi anak dalam mempelajari perilaku moral. Cara-cara dalam memberikan pembelajaran moral pada anak, yaitu pertama, cara coba ralat. Coba ralat artinya anak belajar bertingkah laku yang dapat diterima lingkungan sosialnya dengan cara mencoba suatu bentuk tingkah laku. Jika reaksi tidak menyenangkan, maka anak akan memperbaikinya dengan mencoba tingkah laku lain. Begitu seterusnya hingga mendapat respon yang positif dari lingkungan. Namun cara ini kurang efektif karena membutuhkan waktu lama. Kedua, dengan cara pendidikan langsung. Cara ini mengutamakan proses  belajar yang melibatkan anak untuk langsung belajar bereaksi dengan tepat pada situasi sosial yang ia jalani. Anak dilatih untuk menilai situasi sosial dan mengantisipasi kemungkinan apa yang akan terjadi. Ketiga, dengan cara identifikasi. Bila anak menyukai atau mengagumi seseorang, maka biasanya ia mengidentifikasi dirinya dengan orang tersebut, ia akan meniru perilaku orang tersebut terutama menyerap nilai moral orang tersebut. Pada usia dini, anak mengidentifikasi keluarga inti terutama orang tuanya. Ketika anak semakin besar, anak mulai mengenal orang lain, selain keluarga inti. Pada saat inilah anak mulai mengidentifikasi orang lain di luar keluarganya. Selama nilai yang diidentifikasi dari lingkungan luar rumah tidak bertentangan dengan nilai moral yang ditanamkan dari keluarganya, maka tidak akan menjadi masalah. Namun, jika terjadi pertentangan antara nilai moral yang ia miliki dari rumah (orang tua) dengan nilai yang ia dapat dari lingkungan luar (teman sebaya), maka nilai moral dari orang yang diidentifikasi menjadi penting karena menjadi pegangan bagi anak dalam mengatasi kebingungan dan kesenjangan antara nilai moral rumah dengan nilai moral lingkungan.

Perkembangan moral anak, sebelum ada pengaruh lingkungan dari luar rumah, dipengaruhi oleh kedekatan anak dan orang tua serta teladan dari orang tua. Maka, orang tua sebagai figur terdekat anak memiliki peran yang penting bagi anak dalam menyerap nilai moral untuk menyaring pengaruh buruk dari lingkungan luar rumah.

Dalam proses memberikan pendidikan moral pada anak, tentunya ada hambatan-hambatan yang muncul karena sifat moral yang abstrak dan konsep abstrak yang dimiliki anak belum kuat sehingga anak butuh  waktu untuk memahami moral.  Sehingga orang tua harus lebih sabar dan telaten dalam membimbing anaknya dalam memberikan pengajaran moral.

Lalu aspek positif apa saja yang diperoleh anak ketika ia belajar moral? Pertama, anak dapat mempelajari apa yang diharapkan dari lingkungan sosial, berupa hukum, kebiasaan setempat, dan aturan yang berlaku. Kedua, anak belajar mengembangkan hati nurani. Ketiga, anak belajar mengalami rasa bersalah dan rasa malu. Keempat, anak memiliki kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Penerapan nilai-nilai moral yang dikembangkan dalam diri anak, terbagi menjadi dua macam, yaitu nilai individu dan nilai sosial. Nilai individu adalah nilai yang terdapat dalam diri individu. Yang termasuk nilai-nilai individu adalah kejujuran, disiplin, dan hati nurani. Sedangkan nilai sosial adalah nilai yang berkaitan dengan kebersamaan individu dalam masyarakat, seperti empati, menghormati orang lain, kontrol diri, dan keadilan.

Nilai individu tentang kejujuran. Kejujuran menjadi penting karena anak mengakui apa yang ia pikirkan, ia rasakan, dan ia lakukan sebagaimana adanya, seseorang dapat terhindar dari rasa bersalah yang timbul akibat kebohongan yang ia lakukan. Tentunya orang tua menjadi teladan utama bagi anaknya dalam menerapkan kejujuran. Berikutnya nilai individu berupa kedisiplinan. Kedisiplinan membantu anak untuk dapat mengendalikan diri, anak dapat memperoleh batasan untuk memperbaiki tingkah lakunya yang salah. Disiplin mendorong anak memperoleh perasaan puas karena kesetiaan dan kepatuhannya. Disiplin juga mengajarkan anak bagaimana berpikir secara teratur. Agar kedisiplinan dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya, maka diperlukan syarat utama pendukung, yaitu adanya peraturan, konsistensi dan penghargaan yang diberikan pada anak. Nilai individu yang lainnya yaitu hati nurani. Hati nurani disebut juga perasaan memiliki kepedulian dan perhatian terhadap orang lain. Dengan memiliki perasaan tersebut anak akan seringkali melakukan perbuatan menyenangkan bagi orang lain bahkan mengabaikan kepentingan diri sendiri karena lebih mementingkan orang lain, anak belajar berpikir positif, dan juga anak tidak mengharapkan balasan apapun dari orang lain.

Nilai sosial berupa empati. Empati merupakan kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain untuk mengerti dan merasakan pemikiran serta perasaan orang lain. Dengan empati anak dapat menghindarkan diri dari melakukan perbuatan keji karena anak paham efek negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tidak bermoral tersebut. Anak yang memiliki empati yang baik akan mempunyai kemampuan tenggang rasa terhadap orang lain dan peka terhadap situasi orang lain. Cara mengembangkan empati, yaitu dengan keteladanan orang tua serta orang tua menjelaskan apa tujuan dan manfaat yang diperoleh anak jika anak berempati. Nilai berikutnya, menghormati dan menghargai orang lain. Proses pembelajaran nilai ini, kembali lagi dari keteladanan orang tua. Anak akan menghormati orang lain ketika ia merasa orang lain (orang tua) menghormati dirinya. Karena merasa dihormati orang lain, maka anak menumbuhkan rasa menghormati diri sendiri. Faktor penunjang yang penting dalam dalam upaya menghormati dan menghargai orang lain, yaitu dengan bantuan tiga kata ajaib : mengucapkan terima kasih, tolong, dan maaf. Orang tua memberikan keteladan dalam menerapkan ketiga kata ajaib tersebut dalam kegiatan sehari-hari dan menjelaskan kegunaannya pada anak. Nilai sosial berikutnya, yaitu nilai kontrol diri, termasuk di dalamnya berupa ekspresi emosi. Ekspresi emosi berkaitan erat dengan relasi anak dengan lingkungan. Seorang anak bisa memiliki berbagai ekspresi untuk mengungkapkan perasaan. Maka anak harus memilih untuk melakukan cara yang dapat diterima lingkungan dengan tetap membuat dirinya nyaman.  Orang tua dapat menggunakan berbagai cara untuk melakukan pembelajaran terkait pelepasan emosi, yaitu melalui diskusi cerita, contoh sehari-hari, film, buku cerita, boneka, dan mengajarkan anak ekepresi emosi. Nilai sosial selanjutnya berupa keadilan. Adil artinya perasaan atau keyakinan yang memberikan motivasi untuk bersikap jujur, bertindak benar, dan berbagi dengan orang lain. Dalam mengembangkan aspek moral keadilan kurang lebih sama dengan aspek moral lainnya, yaitu memberi teladan dan bersikap adil pada anak. Beberapa cara permainan untuk mengajarkan keadilan pada anak adalah dengan menetapkan aturan, bergiliran belajar, bermain atau mengejarkan tugas, menjalankan kesepakatan, menerapkan undian untuk pengambilan keputusan, dan pembatasan waktu dalam bermain.

Nilai-nilai moral yang dijabarkan di atas, jika orang tua terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cinta yang tulus, keteladanan, serta penjelasan orang tua sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak, maka anak akan memahami nilai-nilai moral tersebut. Harapan kita semua dengan adanya peran keluarga dalam mengembangkan nilai-nilai moral, anak akan memiliki bekal moral yang kuat, karena anak akan kebal menghadapi setiap godaan moral dari lingkungan. Orang tua harus memiliki kemauan dan kemampuan mengembangkan nilai moral pada anak-anaknya agar mampu mewujudkan cita-citanya memiliki anak yang berhasil tidak hanya secara akademis, tetapi juga mentalitas yang kuat, kepribadian baik dan sholih. Dengan moral yang baik, negara Indonesia mampu mencetak generasi yang berkarakter, memiliki jati diri bangsa yang kokoh, meneruskan nilai-nilai luhur nenek moyang, melestarikan dasar negara kita, yaitu Pancasila dan mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia.

Referensi : Ibung, Dian. Mengembangkan Nilai Moral Pada Anak. 2009. Jakarta : Elex Media Komputindo

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s